Project Description
Desain Interior Ruang Sidang Kampus Desain Arsitek Jogja
Lokasi: Yogyakarta
Interior Ruang Sidang: Merancang Panggung Ujian Akademis dengan Prinsip Minimalisme Fungsional
Ruang sidang di lingkungan kampus memiliki fungsi penting sebagai tempat pelaksanaan kegiatan akademik formal, seperti sidang skripsi, seminar, ujian tesis, hingga rapat-rapat institusional. Oleh karena itu, desain interior ruang sidang harus mampu menciptakan suasana yang resmi namun tetap nyaman, serta mencerminkan identitas dan profesionalisme kampus.
Penataan furnitur, pencahayaan, akustik, hingga pemilihan warna dan material menjadi aspek penting yang harus diperhatikan dalam merancang ruang ini.
Baca Juga: Desain Interior Aula Kampus Minimalis Modern Desain Arsitek Jogja
Ruang sidang skripsi atau tesis adalah lebih dari sekadar ruang kelas; ia adalah sebuah panggung, sebuah arena di mana puncak perjalanan akademis seorang mahasiswa diuji dan divalidasi. Desain interior ruang sidang yang efektif, seperti yang terlihat pada gambar ini, memahami kesakralan momen tersebut. Dengan pendekatan minimalisme fungsional, ruang ini dirancang secara cermat untuk menciptakan atmosfer yang sarat konsentrasi, bebas distraksi, dan mendukung proses intelektual yang intens.
Tata Letak Hierarkis yang Mendefinisikan Peran
Elemen paling fundamental dalam desain ini adalah tata letaknya yang hierarkis. Penempatan satu meja penguji di bagian depan yang berhadapan langsung dengan deretan meja mahasiswa menciptakan sebuah dikotomi spasial yang jelas antara “penguji” dan “yang diuji”. Tata letak ini secara psikologis membangun sebuah forum yang formal dan terstruktur, mengarahkan semua fokus dan alur komunikasi ke satu titik. Ini adalah panggung yang dirancang untuk dialog yang serius dan terfokus, bukan kolaborasi informal.

Furnitur: Kesederhanaan yang Mendukung Konsentrasi
Tidak ada elemen dekoratif berlebihan pada furnitur yang dipilih. Meja-meja modular dengan permukaan laminasi berwarna kayu terang (light wood) dan rangka metal yang ramping memberikan kesan ringan dan modern. Desain yang jujur dan straightforward ini memastikan bahwa perhatian tidak teralih pada kemewahan, melainkan pada fungsi. Kursi-kursi berwarna hitam yang senada menciptakan keseragaman visual dan nuansa profesional. Pilihan furnitur ini menggarisbawahi etos ruang: sebuah tempat untuk bekerja dan berpikir, bukan untuk bersantai.
Baca Juga: Desain Interior Ruang Sekretariat Kampus Desain Arsitek Jogja
Palet Warna Netral sebagai Kanvas Intelektual
Tidak hanya itu, dinding dicat dengan warna putih gading atau krem yang lembut, sementara lantai menggunakan warna senada yang terang. Pemilihan palet warna netral ini adalah strategi desain yang esensial. Warna-warna ini berfungsi sebagai “kanvas kosong”, menciptakan lingkungan yang tenang dan bebas dari stimulasi visual yang tidak perlu. Dalam ruang yang minim “noise” visual ini, konten presentasi, argumen lisan, dan kejernihan berpikir diharapkan dapat menjadi satu-satunya pusat perhatian.

Permainan Cahaya yang Terkontrol
Untuk desain pencahayaan di ruang ini menunjukkan pemahaman yang mendalam akan kebutuhan fungsional.
- Cahaya Alami: Satu jendela berukuran cukup menjadi sumber cahaya alami, namun penggunaannya dapat diatur sepenuhnya melalui tirai bilah (blinds). Fleksibilitas ini sangat krusial untuk mengakomodasi penggunaan proyektor atau layar presentasi, di mana kontrol terhadap silau (glare) adalah sebuah keharusan.
- Cahaya Buatan: Langit-langit menampilkan desain drop ceiling sederhana dengan teknik pencahayaan tersembunyi (indirect lighting). Ini menghasilkan cahaya ambien yang lembut dan merata di seluruh ruangan, mengurangi bayangan tajam dan kelelahan mata—faktor penting selama sesi ujian yang bisa berlangsung berjam-jam.
Baca Juga: Desain Interior Front Office Perpustakaan Modern Desain Arsitek Jogja
Fasilitas Presentasi: Simbiosis Tradisional dan Modern
Nah, pada titik fokus ruangan, terdapat papan tulis hitam (blackboard) tradisional yang sebagian tertutup oleh layar proyektor atau bagan presentasi yang dapat digulung. Pilihan ini menunjukkan sebuah ruang yang adaptif, siap memfasilitasi gaya presentasi klasik yang membutuhkan goresan kapur untuk penjelasan spontan, maupun presentasi digital yang terstruktur. Di atasnya, sebuah jam dinding sederhana terpasang—bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai penanda disiplin dan pengingat akan efisiensi waktu yang menjadi esensi dari sebuah ujian.

Secara keseluruhan, desain interior ruang sidang ini adalah sebuah studi kasus tentang bagaimana ruang dapat dibentuk untuk melayani sebuah tujuan yang sangat spesifik. Dengan mengeliminasi semua yang tidak esensial, desainer berhasil menciptakan sebuah lingkungan yang serius, netral, dan sepenuhnya berpihak pada proses akademis yang berlangsung di dalamnya.



