Rumah Jengki merupakan gaya arsitektur hunian yang berkembang di Indonesia pada era 1950–1960-an, sebagai simbol kebebasan dan identitas baru pasca-kemerdekaan. Tidak hanya terlihat dari bentuk fasadnya yang ekspresif dan asimetris, karakter Jengki juga hadir kuat pada desain interior rumah, yang menampilkan semangat modern, dinamis, dan berani berbeda dari gaya kolonial sebelumnya.

Latar Belakang Interior Rumah Jengki

Interior rumah Jengki lahir bersamaan dengan masuknya pengaruh budaya modern Barat, khususnya Amerika, setelah Indonesia merdeka. Pada masa ini, interior tidak lagi bersifat formal dan kaku seperti rumah kolonial, melainkan lebih ekspresif dan fungsional.

Konsep interior Jengki menekankan kebebasan tata ruang, kenyamanan penghuni, serta keberanian dalam bentuk dan warna. Gaya ini menjadi perwujudan semangat zaman yang optimis dan progresif.

Baca Juga: Butik Kontemporer Dress House, Butik dengan Kehangatan dan Transparansi Modern

Tata Ruang yang Dinamis

Salah satu ciri utama interior rumah Jengki adalah tata ruang yang tidak simetris. Ruang-ruang disusun lebih fleksibel, mengikuti bentuk bangunan yang bersudut dan miring. Peralihan antar ruang sering kali dibuat tanpa sekat masif, sehingga menciptakan kesan lapang dan mengalir.

Ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang makan umumnya saling terhubung, mencerminkan gaya hidup modern yang lebih terbuka dan sosial.

Interior Open Space Rumah Jengki - Desain Arsitek Jogja

Elemen Bentuk dan Garis

Interior rumah Jengki kaya akan:

  • Garis diagonal dan sudut tajam

  • Bidang dinding miring atau tidak sejajar

  • Plafon mengikuti kemiringan atap

Elemen-elemen ini menghadirkan dinamika visual yang kuat dan menjadi identitas khas interior Jengki, berbeda dari interior tradisional maupun kolonial.

Baca Juga: Villa Tropis Bali: Arsitektur yang Menyatu dengan Alam dan Memberi Pengalaman Ruang yang Tenang

Material dan Finishing

Material yang digunakan pada interior rumah Jengki umumnya sederhana dan mudah diperoleh, seperti:

  • Kayu untuk pintu, kusen, dan furnitur

  • Teraso atau tegel bermotif geometris pada lantai

  • Plesteran halus dengan cat warna cerah atau pastel

Pemilihan material menekankan fungsi dan kepraktisan, tanpa menghilangkan nilai estetika.

Interior Ruang Keluarga Dapur Rumah Jengki - Desain Arsitek Jogja

Warna dan Pencahayaan

Interior rumah Jengki identik dengan warna-warna cerah dan kontras, seperti hijau, kuning, biru, dan merah bata, yang dipadukan dengan warna netral. Pencahayaan alami dimaksimalkan melalui bukaan jendela besar dan ventilasi tinggi, sesuai dengan iklim tropis Indonesia.

Lampu gantung sederhana dengan bentuk geometris sering digunakan sebagai elemen dekoratif sekaligus fungsional.

Baca Juga: Rumah Tropis Modern dengan Sentuhan Vernakular: Simpel, Fungsional, dan Kontekstual

Furnitur Gaya Jengki

Furnitur dalam interior rumah Jengki cenderung:

  • Berbentuk geometris dan ramping

  • Menggunakan kaki miring atau menyudut

  • Mengutamakan fungsi dan kenyamanan

Gaya furnitur ini sejalan dengan estetika mid-century modern, namun diadaptasi dengan konteks lokal dan ketersediaan material.

Interior rumah Jengki mencerminkan semangat kebebasan, modernitas, dan keberanian berekspresi pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Dengan tata ruang dinamis, permainan garis diagonal, warna cerah, dan material sederhana, interior Jengki menjadi bagian penting dari sejarah desain interior Indonesia. Keberadaannya kini menjadi warisan arsitektur yang layak dipahami, diapresiasi, dan dilestarikan.